Alternative Encyclopedia

September 19, 2006

Filsafat Pelancong

Setiap kali baru pulang dari perjalanan jauh, untuk beberapa lama biasanya saya tidak banyak bercerita. Kalaupun ada yang bertanya, "Piye?", "Gimana?" dll. biasanya saya hanya akan menjawab sepatah dua patah kata saja dan sesudah itu melakukan kegiatan yang membuat saya sukar diajak komunikasi (mis: mandi, baca, pergi atau tiduran). Sebenarnya yang saya rasakan waktu itu bukan semata kecapaian atau saya sengaja bertingkah ‘menyebalkan’. Saya paham bahwa orang-orang di rumah atau di tempat saya pulang ingin segera mengetahui apa yang saya lakukan, lihat atau dengar dari tempat jauh yang saya kunjungi itu. Namun, waktu itu saya justru seperti tidak punya sesuatu untuk dikatakan.

INGATAN
Kebetulan saya juga baru saja melakukan perjalanan jauh ke tempat yang masih cukup asing yakni ibukota. Dan saya memikirkan hal ini, saya berpikir bahwa perasaan ‘tidak punya sesuatu untuk dikatakan’ yang saya rasakan kemarin (hingga hari ini) adalah karena jiwa saya masih tercerai berai. Ini menjadi semacam ‘teori’ saya (kalau memang belum pernah ada yang menyatakannya, namun saya kira sudah ada, mungkin dulu di jaman dunia belum kenal mesin uap) terhadap pikiran. Bahwa saat kita pergi ke satu tempat, kita meninggalkan sebagian dari jiwa atau roh kita (atau semacamnya) di tempat itu. Dan karena berasal dari satu sumber (diri kita), maka roh-roh itu pun masih saling berhubungan dalam satu bentuk yang sering disebut sebagai ‘ingatan’. Ini tidak hanya terjadi di medium tempat/lanskap/lokasi namun bisa juga tubuh (manusia/hewan) atau apapun yang berupa bidang.

KONEKSITAS
Makin sering kita mendatangi tempat itu, makin banyak ‘roh’ (saya masih tidak sreg dengan kata ini) yang kita tinggalkan di tempat itu, dan karenanya akan tercipta suasana yang membuat kita ‘terbiasa’. Sama halnya kalau kita mulai menaruh barang-barang pribadi kita (baju, sikat gigi, sandal, dll) di satu tempat yang sering kita kunjungi, terciptalah semacam hubungan pribadi yang terjalin antara kita dengan tempat itu, karena sebagian dari diri kita ada di sana. Karenanya, waktu pulang dari tempat yang sudah akrab tersebut, tidak ada banyak kesulitan bagi kita untuk menceritakan pengalaman-pengalaman tersebut. Bahkan, meski masih susah dijelaskan, saya curiga kalau hubungan antara bagian roh yang kita tinggalkan di satu tempat adalah lebih dalam dari sekedar ingatan tadi.

TEMPAT BARU
Meski demikian, kadang kelelahan setelah menempuh satu perjalanan tetap mempengaruhi fungsi tubuh. Sehingga meski kita pergi ke tempat yang sudah diakrabi, namun karena kecapaian, kita juga malas bercerita. Namun disini ukurannya berbeda. Jadi misalnya dari Solo saya pergi berdua bersama orang yang belum pernah ke Surabaya (dengan kondisi kesehatan dan kekuatan yang sama). Di Surabaya kami pergi kemana-mana bersama, melakukan semua aktifitas yang sama, maka setibanya kembali di sini, teman seperjalanan saya itu akan merasa lebih capai daripada saya. Karena di tempat yang masih baru, ia lebih banyak membagi-bagi jiwa/rohnya, atau meninggalkan bagian dari dirinya itu dalam porsi yang lebih besar dari saya yang sudah lebih akrab dengan kota Surabaya.

TERITORI
Ini karena rasa capai akibat menempuh perjalanan jauh terjadi karena di tiap ukuran tertentu (mungkin juga tiap senti) jarak yang kita lalui, tubuh kita secara otomatis meninggalkan bagian-bagian dari jiwa kita ke tempat-tempat tersebut. Dan ini memang penting untuk dilakukan, karena seperti halnya binatang yang kencing di tempat-tempat yang baru ia lalui, hal tersebut adalah untuk membuat kita bisa mengenali tempat-tempat itu kembali. Mungkin tidak seekstrim binatang yang melakukan hal tersebut (konon) sebagai klaim wilayah, namun bukankah, misalnya, orang Solo jika di kotanya sendiri juga sering bilang ‘ga papa, ini daerahku kok.’ Kita merasa memiliki daerah tersebut karena ada banyak bagian dari jiwa yang telah kita tinggalkan di sana.

CULTURE SHOCK
Untuk tempat yang asing, yang terjadi adalah kebalikannya. Seperti sudah disinggung di atas. Kita selalu sibuk menandai daerah baru dengan bagian-bagian dari jiwa kita itu. Ini tentu memerlukan tenaga lebih besar dari sekedar menambahi. Di tempat baru, dalam dunia yang tak kelihatan itu, bagian dari jiwa kita juga harus ‘berperang’ melawan bagian jiwa-jiwa milik orang lain yang sudah lebih dulu ada, yang sudah mapan. Inilah yang sering menyebabkan sesuatu yang disebut ‘culture shock’.

HOME SICK, FIRASAT, KEKUATIRAN
Bagaimana pula dengan ‘home sick’? Saya kira ‘home sick’ terjadi akibat ketidakseimbangan yang sangat besar antara pembagian tadi. Jadi di satu tempat (biasanya rumah) terlalu banyak bagian-bagian jiwa yang ia tinggalkan. Sedang di tempat yang ia tinggali saat ini, jumlahnya masih sangat sedikit (belum lagi harus menghadapi ‘peperangan’ dengan penghuni lama), karenanya bagian-bagian yang begitu banyak ditinggal di rumah tadi berteriak memanggilnya, mungkin karena jumlah mereka yang makin sedikit, karena mulai terdesak milik orang lain, karena yang di tempat lama memerlukan isi ulang (dan kalau sudah sangat mendesak, ada kalanya komunikasi antar bagian jiwa itu terjadi tanpa bisa dikontrol, mis: membuat seakan keluarga di rumah mengalami kejadian apa-apa, dll. yang kita kenal dengan nama ‘kekhawatiran’ atau juga ‘firasat’), juga karena bagian-bagian yang ada di tempat baru merasa ‘kalah’. Dan manusia (yang unsur-unsurnya ada di bagian-bagian tersebut) selalu memiliki kebutuhan mempunyai satu tempat dimana mereka merasa aman.

TEMPAT ANGKER
Apakah ini berarti saya setuju dengan pendapat yang menuding tempat ini atau tempat itu adalah angker? Saya pribadi masih tidak percaya dengan masalah keangkeran satu tempat ini, terutama berkaitan dengan penyebabnya. Namun perasaan bahwa ada bagian dari jiwa manusia yang masih tertinggal di satu tempat memang bukan omong kosong karena itulah inti dari teori ini.

Tempat ‘angker’ adalah yang contoh paling ekstrim dari perkumpulan bagian jiwa-jiwa itu. Tapi kalau satu tempat disebut angker karena ‘ada penunggunya’ maka sesungguhnya semua tempat adalah angker (kecuali tempat yang belum pernah mengalami kehadiran manusia). Jadi bagi saya, satu tempat bisa menjadi terasa menyeramkan bukan semata karena masalah ada penunggunya atau tidak. Namun lebih karena bagian-bagian jiwa yang menetap di situ demikian banyak. Fenomena tempat yang dibilang angker sendiri bisa dijelaskan seperti berikut; saat orang meninggal dunia, ia tidak punya lagi kendaraan (dalam wujud tubuh) untuk membawanya kemana-mana, maka bagian-bagian dari jiwa yang selama ini dibawa oleh tubuh akan tertarik ke wilayah/tempat dimana terdapat paling banyak bagian-bagian jiwa yang lain, yang sebelumnya telah disebarkan oleh tubuh waktu ia masih aktif (hidup). Jika selama hidup saya paling banyak menyebarkannya di lokasi A, maka waktu mati bagian-bagian dari jiwa saya nanti secara naluriah, seperti magnet akan menuju ke tempat dimana ‘rekan-rekannya’ paling banyak berada.

Oleh karena itu, saya tidak menerima pendapat bahwa yang tempat-tempat tertentu yang suasananya gelap, terbengkalai, berantakan lebih punya potensi untuk ditunggui roh-roh halus (milik orang mati). Namun jika alasan suatu tempat bisa angker adalah karena tempat-tempat tersebut jarang dikunjungi manusia (yang masih hidup), itu lebih bisa diterima. Ya, kalau satu tempat tidak pernah dikunjungi manusia, maka praktis bagian-bagian dari roh/jiwa manusia yang pernah ada di situ posisinya menjadi aman. Karena tidak ada peperangan berebut wilayah dengan bagian-bagian roh baru yang dibawa setiap manusia.

PENUTUP
Memang tidak ada gunanya jika hanya mengintepretasikan dunia tanpa mampu mengubahnya. Saya sendiri belum selesai dengan pelajaran ini, masih belum dibahas secara tuntas mengenai keberadaan media, baik tulisan atau suara, tradisi seperti ziarah belum disebutkan meski konsepnya sudah disinggung sedikit, juga hubungan antar manusia belum dibahas secara mendetail. Walau demikian, dengan melihat ini dari segi kehidupan pelancong lebih dulu, kita mendapatkan wacana-wacana baru untuk tentang bagaimana dan kemana tempat yang baik untuk dikunjungi, apa yang harus dilakukan saat melakukan sebuah perjalanan. Untuk yang lebih besar nanti akan saya bahas mengenai pergerakan massa, apakah itu efektif? Tunggu saja kelanjutannya.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://alterpedia.blogsome.com/2006/09/19/filsafat-pelancong/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>























Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham