Alternative Encyclopedia

July 23, 2006

Hikayat penamaan beberapa makanan

Filed under: Makanan Minuman

gudeg

Gudeg :  Gudeg berasal dari Jogja, kita semua tahu itu. Makanan ini sendiri dulu merupakan hidangan khas keraton. Lalu apa arti namanya? Ternyata nama itu berasal dari bahasa Belanda "Gut dag" yang artinya cukup bagus (atau enak). Awalnya tidak diberi nama, karena tradisi Jawa sebenarnya tidak memberi nama khusus pada satu jenis masakan. Akan tetapi setelah mendengar pujian dari gubermen Belanda saat mencicipi makanan tersebut. Dimulai dari juru masak lalu abdi-abdi keraton sampai akhirnya masyarakat pun menyebutnya dengan nama Gudeg.

Gudangan : dinamakan demikian karena cara penyajian bahan-bahannya yakni sayuran, kecambah, ketimun dan bahan lainnya seperti susunan bahan-bahan pangan di gudang. Kelengkapan dan banyaknya bahan-bahan yang tidak diolah khusus (mis : digoreng atau dipanggang) itu membuat orang-orang Jawa yang memakannya puas, komentar mereka "wah bahan makanan segudang dikeluarkan semua ini.." jadilah sejak saat itu namanya disebut gudangan.

<.. bersambung>
 

May 18, 2006

Bakso pak Kumis dan Soto H.Amat

Filed under: Makanan Minuman


Pernahkah anda memperhatikan perbedaan ini? Kenapa warung penjual bakso banyak mempergunakan nama-nama samaran yang kebanyakan menunjuk pada rambut di wajah? Dimana-mana selalu ada warung bakso bertitel pak Brewok dan bakso pak Kumis. Sementara itu, warung yang menjual jenis makanan sepupu bakso yakni soto; baik soto daging sapi, soto ayam, atau soto dengan nama daerah seperti soto kudus, soto lamongan (tapi coto makasar tidak termasuk) sampai dengan soto jenis lain macam soto kwali dan soto sulung yang memiliki nama franchise tapi satu sama lainnya sama tidak ada koneksi bisnis, seperti kasus bakso pak kumis tadi, biasanya menggunakan nama orang. Nama orang yang dipakai sendiri seperti biasa adalah nama pria, biasanya menggunakan sebutan pak sebagai tanda bahwa ia sudah berumah tangga, untuk soto biasanya (yang sudah laris) juga lantas mencantumkan gelar haji di depannya. Jalan-jalanlah ke banyak kota, tidaklah sulit untuk menemukan warung soto H.Amat (Haji Amat = menunjukkan bahwa dia adalah haji yang sangat haji), yang tanpa gelar juga ada misalnya soto pak Ali dan nama-nama khas pribumi model lawas lain yang nampaknya cukup berhasil menerbitkan selera orang-orang yang sedang kelaparan.    

Kenyataannya tradisi ini ternyata dimulai sejak periode tahun 1950an. Kita tentu juga sering mendengar cerita-cerita sukses para wiraswastawan lokal yang biasanya mulai bekerja sebagai penjual bakso atau soto sejak sekitar tahun-tahun itu (atau lebih sering tahun 1960an). Dan yang namanya penjual makanan zaman itu biasanya juga berjualan dengan alat pikul yang sekarang mungkin lebih sering dipakai hanya oleh penjual dawet saja (penjual makanan sekarang biasanya lebih memilih gerobak dorong), dan pemakaian alat pikul ini juga berhubungan dengan cerita sejarah asal muasal sesungguhnya tradisi penamaan di atas. Sementara itu, sebagai sebuah sejarah lisan, cerita ini sendiri juga hanya diketahui oleh kalangan penjual bakso dan soto tertentu saja.

Dari wilayah Semarang, kota yang menjadi pusat perdagangan yang memacu suburnya tradisi wirausaha, seorang pemuda bernama Moko (18) baru saja tiba dari kampung halamannya di Kudus untuk merantau ke kota pelabuhan besar itu. Ketika itu tahun 1948, kondisi keamanan dan ekonomi memang sedang tidak bagus-bagus amat, ancaman serangan Belanda, ancaman garong-garong setempat hingga berbagai pemberontakan masih meletus. Moko waktu itu datang sendirian, masih lajang namun bertekad kuat ingin mencari nafkah, apa saja, di kota itu. Moko sendiri memang tidak pernah sekolah, namun telah memiliki kemampuan membaca dan berhitung hasil pengajaran kakeknya yang pernah bersekolah di Volskraad. Dan selain tenaga dari ototnya yang masih muda, bekal keahlian satu-satunya yang ia miliki saat itu adalah kemampuannya meracik makanan. Awal petualangannya dimulai dari sebuah warung makan milik seorang Cina yang selalu mengaku memiliki darah keturunan juru masak istana kaisar-kaisar Tiongkok. Di dapur warung yang pengap dan panas itu, ia mengawali semua mulai dari mengupas wortel, kentang, rebung, membersihkan dan memotong sayuran dan tentu juga mencuci peralatan makan pelanggan. 2 tahun harus dilewati sebelum akhirnya majikannya sadar bahwa pemuda yang jarang bicara apalagi mengeluh itu memiliki kemampuan yang dapat ia pakai untuk membantu mengembangkan usahanya. Baru setelah 2 tahun ia memberi kesempatan dan memperkenalkan Moko dengan resep-resep sekaligus bahan-bahan utama seperti ayam, ikan, babi, sapi, telur dan varian-variannya seperti kekian, dan baso. Moko memang cepat sekali berkembang dan dalam beberapa bulan saja ia telah berhasil menangkap semua pelajaran memasak itu.

Tahun 1951, tanpa terduga, majikan Moko yang bernama babah Sin itu meninggal dunia. Usaha warung diambil alih oleh putranya yang pada dasarnya tidak pernah menunjukkan niat dan minat untuk bekerja di bidang boga. 3 bulan setelah kematian babah Sin, Moko keluar dari pekerjaannya yang disusul oleh tutupnya warung itu 7 bulan berikutnya. Tepat di tahun baru 1952 dengan simpanan uang selama hampir 3 tahun bekerja ia memutuskan untuk membeli sebuah alat pikul milik seorang penjual abu gosok dan beberapa alat dan bahan keperluan memasak. Diraciknya sebuah resep masakan yang memadukan citarasa masakan Cina dan lidah lokal yang telah ia ketahui pasti. Baso yang biasanya memakai bahan babi atau ikan ia ubah menjadi sapi untuk berkompromi dengan pasar yang didominasi pemeluk Islam. Sebulan berlalu, hasil racikan yang sebenarnya cukup banyak disukai itu relatif sepi pembeli. Desas-desus muncul bahwa masakan baso yang ia jual adalah masakan khas Cina yang tidak halal untuk dikonsumsi. Tak ada gunanya juga Moko menjelaskan kepada setiap orang, karena ulama yang dihormati di daerah edar Moko telah mengeluarkan pernyataan dalam sebuah acara sholat Jumat bahwa Moko menjual barang haram Bulan kedua, iapun memutuskan pindah dari wilayah tersebut. Agak ke pinggir kota, di suatu siang yang panas iapun merenung sambil berteduh. Peluhnya bercucuran, pundak dan tangannya terasa lelah. Dibuatnya untuk dirinya sendiri semangkuk bakso yang nikmat. Pikulan itu terlihat sangat kotor karena bekas abu gosok dari pemilik sebelumnya sangat susah dihilangkan. Beristirahat sejenak di bawah sebuah pohon, ia mencoba merenung sambil menutup wajahnya membayangkan nasibnya. Bagaimana mungkin dagangannya bisa lebih laku di pinggiran kota sementara daerah tengah kota pun telah menolak kehadirannya. Setelah sekitar 1 jam beristirahat, barulah ia memiliki kekuatan untuk mencoba berusaha lagi, di daerah yang baru. Sekitar 5 menit ia berjalan, seorang pria memanggil dirinya untuk meminta dibuatkan masakan rasa baru itu. Baso sendiri sebelumnya memang sudah banyak dikenal masyarakat sebagai salah satu bahan makanan Cina yang identik dengan daging babi. Namun agaknya pria itu tak ragu-ragu memakannya, demikian juga dengan seorang ibu, seorang pemuda, seorang tentara, bahkan seorang dengan kopiah haji putih di kepalanya. Hari itu, untuk pertama kali dagangan Moko ludes, semua terjadi di daerah baru yang semula meragukannya.

Apa yang terjadi sebenarnya? Usut punya usut, alat pikul bekas abu gosok itulah sumbernya. Rupanya bekas abu gosok bercampur arang yang menempel di wajah Moko ketika mengusap wajahnya telah menimbulkan sebuah kamuflase. Kamuflase itu adalah bahwa ia adalah seorang Arab dengan wajah hitam dan bekas-bekas cambang serta jidat yang menghitam menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang rajin menjalankan sholat tahajud. Itu sudah membuat banyak masyarakat merasa yakin bahwa makanan yang ia jual pastilah halal. Moko pun menyadari hal tersebut. Mulailah ia perlahan berusaha menumbuhkan jenggot, bahkan brewok serta memiliki kebiasaan melumuri wajah dan jidat dengan angus sebelum berangkat kerja. Sejak itulah ia dikenal sebagai pak Brewok. Kelak, sebutan pak Brewok atau identitas sejenis seperti pak kumis dll itupun menjadi semacam trademark bahwa makanan bakso yang memang tidak lagi berbahan babi itu aman dikonsumsi umat muslim. Sementara untuk soto, dimana soto khas Kudus juga selanjutnya dipopulerkan oleh adik Moko yang bernama Haryo, promosi atas dasar agama itu tetap dipakai dengan membubuhkan singkatan H. Tomo untuk mengelabui fakta bahwa itu judul bukanlah dibaca haji Tomo namun Haryo-tomo, nama lengkap yang ia sandang sejak lahir. Dan mengingat nampaknya strategi itupun masih dipakai dan dipercaya hingga sekarang, apa mau dikata?






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham