<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>Alternative Encyclopedia</title>
	<link>http://alterpedia.blogsome.com</link>
	<description>Kekacauan dimulai dari pengetahuan</description>
	<pubDate>Tue, 19 Sep 2006 15:59:39 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Filsafat Pelancong</title>
		<link>http://alterpedia.blogsome.com/2006/09/19/filsafat-pelancong/</link>
		<comments>http://alterpedia.blogsome.com/2006/09/19/filsafat-pelancong/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Sep 2006 15:59:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Yang terbuktikan</category>
	<category>Filsafat</category>
		<guid>http://alterpedia.blogsome.com/2006/09/19/filsafat-pelancong/</guid>
		<description><![CDATA[	
	Setiap kali baru pulang dari perjalanan jauh, untuk beberapa lama biasanya saya tidak banyak bercerita. Kalaupun ada yang bertanya, &quot;Piye?&quot;, &quot;Gimana?&quot; dll. biasanya saya hanya akan menjawab sepatah dua patah kata saja dan sesudah itu melakukan kegiatan yang membuat saya sukar diajak komunikasi (mis: mandi, baca, pergi atau tiduran). Sebenarnya yang saya rasakan waktu itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><a href="http://alterpedia.blogsome.com/images/83355692_a8bc9593cc_m.jpg"><img title="" height="130" alt="" src="http://alterpedia.blogsome.com/images/thumb-83355692_a8bc9593cc_m.jpg" width="200" border="0" /></a></p>
	<p>Setiap kali baru pulang dari perjalanan jauh, untuk beberapa lama biasanya saya tidak banyak bercerita. Kalaupun ada yang bertanya, &quot;Piye?&quot;, &quot;Gimana?&quot; dll. biasanya saya hanya akan menjawab sepatah dua patah kata saja dan sesudah itu melakukan kegiatan yang membuat saya sukar diajak komunikasi (mis: mandi, baca, pergi atau tiduran). Sebenarnya yang saya rasakan waktu itu bukan semata kecapaian atau saya sengaja bertingkah &#8216;menyebalkan&#8217;. Saya paham bahwa orang-orang di rumah atau di tempat saya pulang ingin segera mengetahui apa yang saya lakukan, lihat atau dengar dari tempat jauh yang saya kunjungi itu. Namun, waktu itu saya justru seperti tidak punya sesuatu untuk dikatakan.</p>
	<p><strong>INGATAN</strong><br />Kebetulan saya juga baru saja melakukan perjalanan jauh ke tempat yang masih cukup asing yakni ibukota. Dan saya memikirkan hal ini, saya berpikir bahwa perasaan &#8216;tidak punya sesuatu untuk dikatakan&#8217; yang saya rasakan kemarin (hingga hari ini) adalah karena jiwa saya masih tercerai berai. Ini menjadi semacam &#8216;teori&#8217; saya (kalau memang belum pernah ada yang menyatakannya, namun saya kira sudah ada, mungkin dulu di jaman dunia belum kenal mesin uap) terhadap pikiran. Bahwa saat kita pergi ke satu tempat, kita meninggalkan sebagian dari jiwa atau roh kita (atau semacamnya) di tempat itu. Dan karena berasal dari satu sumber (diri kita), maka roh-roh itu pun masih saling berhubungan dalam satu bentuk yang sering disebut sebagai &#8216;ingatan&#8217;. Ini tidak hanya terjadi di medium tempat/lanskap/lokasi namun bisa juga tubuh (manusia/hewan) atau apapun yang berupa bidang.</p>
	<p><strong>KONEKSITAS<br /></strong>Makin sering kita mendatangi tempat itu, makin banyak &#8216;roh&#8217; (saya masih tidak sreg dengan kata ini) yang kita tinggalkan di tempat itu, dan karenanya akan tercipta suasana yang membuat kita &#8216;terbiasa&#8217;. Sama halnya kalau kita mulai menaruh barang-barang pribadi kita (baju, sikat gigi, sandal, dll) di satu tempat yang sering kita kunjungi, terciptalah semacam hubungan pribadi yang terjalin antara kita dengan tempat itu, karena sebagian dari diri kita ada di sana. Karenanya, waktu pulang dari tempat yang sudah akrab tersebut, tidak ada banyak kesulitan bagi kita untuk menceritakan pengalaman-pengalaman tersebut. Bahkan, meski masih susah dijelaskan, saya curiga kalau hubungan antara bagian roh yang kita tinggalkan di satu tempat adalah lebih dalam dari sekedar ingatan tadi.</p>
	<p><strong>TEMPAT BARU</strong><br />Meski demikian, kadang kelelahan setelah menempuh satu perjalanan tetap mempengaruhi fungsi tubuh. Sehingga meski kita pergi ke tempat yang sudah diakrabi, namun karena kecapaian, kita juga malas bercerita. Namun disini ukurannya berbeda. Jadi misalnya dari Solo saya pergi berdua bersama orang yang belum pernah ke Surabaya (dengan kondisi kesehatan dan kekuatan yang sama). Di Surabaya kami pergi kemana-mana bersama, melakukan semua aktifitas yang sama, maka setibanya kembali di sini, teman seperjalanan saya itu akan merasa lebih capai daripada saya. Karena di tempat yang masih baru, ia lebih banyak membagi-bagi jiwa/rohnya, atau meninggalkan bagian dari dirinya itu dalam porsi yang lebih besar dari saya yang sudah lebih akrab dengan kota Surabaya.</p>
	<p><strong>TERITORI</strong><br />Ini karena rasa capai akibat menempuh perjalanan jauh terjadi karena di tiap ukuran tertentu (mungkin juga tiap senti) jarak yang kita lalui, tubuh kita secara otomatis meninggalkan bagian-bagian dari jiwa kita ke tempat-tempat tersebut. Dan ini memang penting untuk dilakukan, karena seperti halnya binatang yang kencing di tempat-tempat yang baru ia lalui, hal tersebut adalah untuk membuat kita bisa mengenali tempat-tempat itu kembali. Mungkin tidak seekstrim binatang yang melakukan hal tersebut (konon) sebagai klaim wilayah, namun bukankah, misalnya, orang Solo jika di kotanya sendiri juga sering bilang &#8216;ga papa, ini daerahku kok.&#8217; Kita merasa memiliki daerah tersebut karena ada banyak bagian dari jiwa yang telah kita tinggalkan di sana.</p>
	<p><strong>CULTURE SHOCK<br /></strong>Untuk tempat yang asing, yang terjadi adalah kebalikannya. Seperti sudah disinggung di atas. Kita selalu sibuk menandai daerah baru dengan bagian-bagian dari jiwa kita itu. Ini tentu memerlukan tenaga lebih besar dari sekedar menambahi. Di tempat baru, dalam dunia yang tak kelihatan itu, bagian dari jiwa kita juga harus &#8216;berperang&#8217; melawan bagian jiwa-jiwa milik orang lain yang sudah lebih dulu ada, yang sudah mapan. Inilah yang sering menyebabkan sesuatu yang disebut &#8216;culture shock&#8217;.</p>
	<p><strong>HOME SICK, FIRASAT, KEKUATIRAN</strong><br />Bagaimana pula dengan &#8216;home sick&#8217;? Saya kira &#8216;home sick&#8217; terjadi akibat ketidakseimbangan yang sangat besar antara pembagian tadi. Jadi di satu tempat (biasanya rumah) terlalu banyak bagian-bagian jiwa yang ia tinggalkan. Sedang di tempat yang ia tinggali saat ini, jumlahnya masih sangat sedikit (belum lagi harus menghadapi &#8216;peperangan&#8217; dengan penghuni lama), karenanya bagian-bagian yang begitu banyak ditinggal di rumah tadi berteriak memanggilnya, mungkin karena jumlah mereka yang makin sedikit, karena mulai terdesak milik orang lain, karena yang di tempat lama memerlukan isi ulang (dan kalau sudah sangat mendesak, ada kalanya komunikasi antar bagian jiwa itu terjadi tanpa bisa dikontrol, mis: membuat seakan keluarga di rumah mengalami kejadian apa-apa, dll. yang kita kenal dengan nama &#8216;kekhawatiran&#8217; atau juga &#8216;firasat&#8217;), juga karena bagian-bagian yang ada di tempat baru merasa &#8216;kalah&#8217;. Dan manusia (yang unsur-unsurnya ada di bagian-bagian tersebut) selalu memiliki kebutuhan mempunyai satu tempat dimana mereka merasa aman.</p>
	<p><strong>TEMPAT ANGKER</strong><br />Apakah ini berarti saya setuju dengan pendapat yang menuding tempat ini atau tempat itu adalah angker? Saya pribadi masih tidak percaya dengan masalah keangkeran satu tempat ini, terutama berkaitan dengan penyebabnya. Namun perasaan bahwa ada bagian dari jiwa manusia yang masih tertinggal di satu tempat memang bukan omong kosong karena itulah inti dari teori ini.</p>
	<p>Tempat &#8216;angker&#8217; adalah yang contoh paling ekstrim dari perkumpulan bagian jiwa-jiwa itu. Tapi kalau satu tempat disebut angker karena &#8216;ada penunggunya&#8217; maka sesungguhnya semua tempat adalah angker (kecuali tempat yang belum pernah mengalami kehadiran manusia). Jadi bagi saya, satu tempat bisa menjadi terasa menyeramkan bukan semata karena masalah ada penunggunya atau tidak. Namun lebih karena bagian-bagian jiwa yang menetap di situ demikian banyak. Fenomena tempat yang dibilang angker sendiri bisa dijelaskan seperti berikut; saat orang meninggal dunia, ia tidak punya lagi kendaraan (dalam wujud tubuh) untuk membawanya kemana-mana, maka bagian-bagian dari jiwa yang selama ini dibawa oleh tubuh akan tertarik ke wilayah/tempat dimana terdapat paling banyak bagian-bagian jiwa yang lain, yang sebelumnya telah disebarkan oleh tubuh waktu ia masih aktif (hidup). Jika selama hidup saya paling banyak menyebarkannya di lokasi A, maka waktu mati bagian-bagian dari jiwa saya nanti secara naluriah, seperti magnet akan menuju ke tempat dimana &#8216;rekan-rekannya&#8217; paling banyak berada.</p>
	<p>Oleh karena itu, saya tidak menerima pendapat bahwa yang tempat-tempat tertentu yang suasananya gelap, terbengkalai, berantakan lebih punya potensi untuk ditunggui roh-roh halus (milik orang mati). Namun jika alasan suatu tempat bisa angker adalah karena tempat-tempat tersebut jarang dikunjungi manusia (yang masih hidup), itu lebih bisa diterima. Ya, kalau satu tempat tidak pernah dikunjungi manusia, maka praktis bagian-bagian dari roh/jiwa manusia yang pernah ada di situ posisinya menjadi aman. Karena tidak ada peperangan berebut wilayah dengan bagian-bagian roh baru yang dibawa setiap manusia.</p>
	<p><strong>PENUTUP</strong><br />Memang tidak ada gunanya jika hanya mengintepretasikan dunia tanpa mampu mengubahnya. Saya sendiri belum selesai dengan pelajaran ini, masih belum dibahas secara tuntas mengenai keberadaan media, baik tulisan atau suara, tradisi seperti ziarah belum disebutkan meski konsepnya sudah disinggung sedikit, juga hubungan antar manusia belum dibahas secara mendetail. Walau demikian, dengan melihat ini dari segi kehidupan pelancong lebih dulu, kita mendapatkan wacana-wacana baru untuk tentang bagaimana dan kemana tempat yang baik untuk dikunjungi, apa yang harus dilakukan saat melakukan sebuah perjalanan. Untuk yang lebih besar nanti akan saya bahas mengenai pergerakan massa, apakah itu efektif? Tunggu saja kelanjutannya. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alterpedia.blogsome.com/2006/09/19/filsafat-pelancong/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Hikayat penamaan beberapa makanan</title>
		<link>http://alterpedia.blogsome.com/2006/07/23/hikayat-penamaan-beberapa-makanan/</link>
		<comments>http://alterpedia.blogsome.com/2006/07/23/hikayat-penamaan-beberapa-makanan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Jul 2006 09:33:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Makanan Minuman</category>
		<guid>http://alterpedia.blogsome.com/2006/07/23/hikayat-penamaan-beberapa-makanan/</guid>
		<description><![CDATA[	
	Gudeg :&nbsp; Gudeg berasal dari Jogja, kita semua tahu itu. Makanan ini sendiri dulu merupakan hidangan khas keraton. Lalu apa arti namanya? Ternyata nama itu berasal dari bahasa Belanda &quot;Gut dag&quot; yang artinya cukup bagus (atau enak). Awalnya tidak diberi nama, karena tradisi Jawa sebenarnya tidak memberi nama khusus pada satu jenis masakan. Akan tetapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img title="gudeg" height="235" alt="gudeg" src="http://alterpedia.blogsome.com/images/gudeg2.jpg" width="200" border="0" /></p>
	<p><strong>Gudeg</strong> :&nbsp; Gudeg berasal dari Jogja, kita semua tahu itu. Makanan ini sendiri dulu merupakan hidangan khas keraton. Lalu apa arti namanya? Ternyata nama itu berasal dari bahasa Belanda &quot;Gut dag&quot; yang artinya cukup bagus (atau enak). Awalnya tidak diberi nama, karena tradisi Jawa sebenarnya tidak memberi nama khusus pada satu jenis masakan. Akan tetapi setelah mendengar pujian dari gubermen Belanda saat mencicipi makanan tersebut. Dimulai dari juru masak lalu abdi-abdi keraton sampai akhirnya masyarakat pun menyebutnya dengan nama Gudeg.</p>
	<p><strong>Gudangan</strong> : dinamakan demikian karena cara penyajian bahan-bahannya yakni sayuran, kecambah, ketimun dan bahan lainnya seperti susunan bahan-bahan pangan di gudang. Kelengkapan dan banyaknya bahan-bahan yang tidak diolah khusus (mis : digoreng atau dipanggang) itu membuat orang-orang Jawa yang memakannya puas, komentar mereka &quot;wah bahan makanan segudang dikeluarkan semua ini..&quot; jadilah sejak saat itu namanya disebut gudangan.</p>
	<p>&lt;.. bersambung&gt;<br />&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alterpedia.blogsome.com/2006/07/23/hikayat-penamaan-beberapa-makanan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Bakso pak Kumis dan Soto H.Amat</title>
		<link>http://alterpedia.blogsome.com/2006/05/18/bakso-pak-kumis-dan-soto-hamat/</link>
		<comments>http://alterpedia.blogsome.com/2006/05/18/bakso-pak-kumis-dan-soto-hamat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 May 2006 13:48:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Makanan Minuman</category>
		<guid>http://alterpedia.blogsome.com/2006/05/18/bakso-pak-kumis-dan-soto-hamat/</guid>
		<description><![CDATA[	
Pernahkah anda memperhatikan perbedaan ini? Kenapa warung penjual bakso banyak mempergunakan nama-nama samaran yang kebanyakan menunjuk pada rambut di wajah? Dimana-mana selalu ada warung bakso bertitel pak Brewok dan bakso pak Kumis. Sementara itu, warung yang menjual jenis makanan sepupu bakso yakni soto; baik soto daging sapi, soto ayam, atau soto dengan nama daerah seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><font><br />
<p align="justify">Pernahkah anda memperhatikan perbedaan ini? Kenapa warung penjual bakso banyak mempergunakan nama-nama samaran yang kebanyakan menunjuk pada rambut di wajah? Dimana-mana selalu ada warung bakso bertitel pak Brewok dan bakso pak Kumis. Sementara itu, warung yang menjual jenis makanan sepupu bakso yakni soto; baik soto daging sapi, soto ayam, atau soto dengan nama daerah seperti soto kudus, soto lamongan (tapi coto makasar tidak termasuk) sampai dengan soto jenis lain macam soto kwali dan soto sulung yang memiliki nama franchise tapi satu sama lainnya sama tidak ada koneksi bisnis, seperti kasus bakso pak kumis tadi, biasanya menggunakan nama orang. Nama orang yang dipakai sendiri seperti biasa adalah nama pria, biasanya menggunakan sebutan pak sebagai tanda bahwa ia sudah berumah tangga, untuk soto biasanya (yang sudah laris) juga lantas mencantumkan gelar haji di depannya. Jalan-jalanlah ke banyak kota, tidaklah sulit untuk menemukan warung soto H.Amat (Haji Amat = menunjukkan bahwa dia adalah haji yang sangat haji), yang tanpa gelar juga ada misalnya soto pak Ali dan nama-nama khas pribumi model lawas lain yang nampaknya cukup berhasil menerbitkan selera orang-orang yang sedang kelaparan.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </p>
	<p align="justify"><a href="http://alterpedia.blogsome.com/images/r00139_01.jpg"><img title="" height="180" alt="" src="http://alterpedia.blogsome.com/images/thumb-r00139_01.jpg" width="141" border="0" /></a></p>
	<p align="left">Kenyataannya tradisi ini ternyata dimulai sejak periode tahun 1950an. Kita tentu juga sering mendengar cerita-cerita sukses para wiraswastawan lokal yang biasanya mulai bekerja sebagai penjual bakso atau soto sejak sekitar tahun-tahun itu (atau lebih sering tahun 1960an). Dan yang namanya penjual makanan zaman itu biasanya juga berjualan dengan alat pikul yang sekarang mungkin lebih sering dipakai hanya oleh penjual dawet saja (penjual makanan sekarang biasanya lebih memilih gerobak dorong), dan pemakaian alat pikul ini juga berhubungan dengan cerita sejarah asal muasal sesungguhnya tradisi penamaan di atas. Sementara itu, sebagai sebuah sejarah lisan, cerita ini sendiri juga hanya diketahui oleh kalangan penjual bakso dan soto tertentu saja. </p>
	<p align="left">Dari wilayah Semarang, kota yang menjadi pusat perdagangan yang memacu suburnya tradisi wirausaha, seorang pemuda bernama Moko (18) baru saja tiba dari kampung halamannya di Kudus untuk merantau ke kota pelabuhan besar itu. Ketika itu tahun 1948, kondisi keamanan dan ekonomi memang sedang tidak bagus-bagus amat, ancaman serangan Belanda, ancaman garong-garong setempat hingga berbagai pemberontakan masih meletus. Moko waktu itu datang sendirian, masih lajang namun bertekad kuat ingin mencari nafkah, apa saja, di kota itu. Moko sendiri memang tidak pernah sekolah, namun telah memiliki kemampuan membaca dan berhitung hasil pengajaran kakeknya yang pernah bersekolah di Volskraad. Dan selain tenaga dari ototnya yang masih muda, bekal keahlian satu-satunya yang ia miliki saat itu adalah kemampuannya meracik makanan. Awal petualangannya dimulai dari sebuah warung makan milik seorang Cina yang selalu mengaku memiliki darah keturunan juru masak istana kaisar-kaisar Tiongkok. Di dapur warung yang pengap dan panas itu, ia mengawali semua mulai dari mengupas wortel, kentang, rebung, membersihkan dan memotong sayuran dan tentu juga mencuci peralatan makan pelanggan. 2 tahun harus dilewati sebelum akhirnya majikannya sadar bahwa pemuda yang jarang bicara apalagi mengeluh itu memiliki kemampuan yang dapat ia pakai untuk membantu mengembangkan usahanya. Baru setelah 2 tahun ia memberi kesempatan dan memperkenalkan Moko dengan resep-resep sekaligus bahan-bahan utama seperti ayam, ikan, babi, sapi, telur dan varian-variannya seperti <em>kekian</em>, dan baso. Moko memang cepat sekali berkembang dan dalam beberapa bulan saja ia telah berhasil menangkap semua pelajaran memasak itu.</p>
	<p align="left">Tahun 1951, tanpa terduga, majikan Moko yang bernama babah Sin itu meninggal dunia. Usaha warung diambil alih oleh putranya yang pada dasarnya tidak pernah menunjukkan niat dan minat untuk bekerja di bidang boga. 3 bulan setelah kematian babah Sin, Moko keluar dari pekerjaannya yang disusul oleh tutupnya warung itu 7 bulan berikutnya. Tepat di tahun baru 1952 dengan simpanan uang selama hampir 3 tahun bekerja ia memutuskan untuk membeli sebuah alat pikul milik seorang penjual abu gosok dan beberapa alat dan bahan keperluan memasak. Diraciknya sebuah resep masakan yang memadukan citarasa masakan Cina dan lidah lokal yang telah ia ketahui pasti. Baso yang biasanya memakai bahan babi atau ikan ia ubah menjadi sapi untuk berkompromi dengan pasar yang didominasi pemeluk Islam. Sebulan berlalu, hasil racikan yang sebenarnya cukup banyak disukai itu relatif sepi pembeli. Desas-desus muncul bahwa masakan baso yang ia jual adalah masakan khas Cina yang tidak halal untuk dikonsumsi. Tak ada gunanya juga Moko menjelaskan kepada setiap orang, karena ulama yang dihormati di daerah edar Moko telah mengeluarkan pernyataan dalam sebuah acara sholat Jumat bahwa Moko menjual barang haram Bulan kedua, iapun memutuskan pindah dari wilayah tersebut. Agak ke pinggir kota, di suatu siang yang panas iapun merenung sambil berteduh. Peluhnya bercucuran, pundak dan tangannya terasa lelah. Dibuatnya untuk dirinya sendiri semangkuk bakso yang nikmat. Pikulan itu terlihat sangat kotor karena bekas abu gosok dari pemilik sebelumnya sangat susah dihilangkan. Beristirahat sejenak di bawah sebuah pohon, ia mencoba merenung sambil menutup wajahnya membayangkan nasibnya. Bagaimana mungkin dagangannya bisa lebih laku di pinggiran kota sementara daerah tengah kota pun telah menolak kehadirannya. Setelah sekitar 1 jam beristirahat, barulah ia memiliki kekuatan untuk mencoba berusaha lagi, di daerah yang baru. Sekitar 5 menit ia berjalan, seorang pria memanggil dirinya untuk meminta dibuatkan masakan rasa baru itu. Baso sendiri sebelumnya memang sudah banyak dikenal masyarakat sebagai salah satu bahan makanan Cina yang identik dengan daging babi. Namun agaknya pria itu tak ragu-ragu memakannya, demikian juga dengan seorang ibu, seorang pemuda, seorang tentara, bahkan seorang dengan kopiah haji putih di kepalanya. Hari itu, untuk pertama kali dagangan Moko ludes, semua terjadi di daerah baru yang semula meragukannya. </p>
	<p align="left">Apa yang terjadi sebenarnya? Usut punya usut, alat pikul bekas abu gosok itulah sumbernya. Rupanya bekas abu gosok bercampur arang yang menempel di wajah Moko ketika mengusap wajahnya telah menimbulkan sebuah kamuflase. Kamuflase itu adalah bahwa ia adalah seorang Arab dengan wajah hitam dan bekas-bekas cambang serta jidat yang menghitam menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang rajin menjalankan sholat tahajud. Itu sudah membuat banyak masyarakat merasa yakin bahwa makanan yang ia jual pastilah halal. Moko pun menyadari hal tersebut. Mulailah ia perlahan berusaha menumbuhkan jenggot, bahkan brewok serta memiliki kebiasaan melumuri wajah dan jidat dengan angus sebelum berangkat kerja. Sejak itulah ia dikenal sebagai pak Brewok. Kelak, sebutan pak Brewok atau identitas sejenis seperti pak kumis dll itupun menjadi semacam trademark bahwa makanan bakso yang memang tidak lagi berbahan babi itu aman dikonsumsi umat muslim. Sementara untuk soto, dimana soto khas Kudus juga selanjutnya dipopulerkan oleh adik Moko yang bernama Haryo, promosi atas dasar agama itu tetap dipakai dengan membubuhkan singkatan H. Tomo untuk mengelabui fakta bahwa itu judul bukanlah dibaca haji Tomo namun Haryo-tomo, nama lengkap yang ia sandang sejak lahir. Dan mengingat nampaknya strategi itupun masih dipakai dan dipercaya hingga sekarang, apa mau dikata?</p>
</font>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alterpedia.blogsome.com/2006/05/18/bakso-pak-kumis-dan-soto-hamat/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Otak Beristirahat</title>
		<link>http://alterpedia.blogsome.com/2006/04/06/ketika-otak-beristirahat/</link>
		<comments>http://alterpedia.blogsome.com/2006/04/06/ketika-otak-beristirahat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Apr 2006 15:03:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Tubuh kita</category>
		<guid>http://alterpedia.blogsome.com/2006/04/06/ketika-otak-beristirahat/</guid>
		<description><![CDATA[	Mungkin kita juga pernah mengalami hal ini. Otak seakan berhenti bekerja, apa yang kita pikirkan dan akan kita lakukan seakan disela dengan beberapa detik jeda. Ada yang menyebut ini dengan istilah &#8216;hang&#8217; seperti halnya komputer yang tiba-tiba tidak mau menjalankan semua yang kita perintahkan. Memang, seperti halnya sebuah mesin (yang sangat cukup awet), otak kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><strong><img width="180" hspace="10" height="122" border="1" align="left" title="brain soup" alt="brain soup" src="http://alterpedia.blogsome.com/wp-admin/images/thumb-braindmg4.jpg" />M</strong>ungkin kita juga pernah mengalami hal ini. Otak seakan berhenti bekerja, apa yang kita pikirkan dan akan kita lakukan seakan disela dengan beberapa detik jeda. Ada yang menyebut ini dengan istilah &#8216;hang&#8217; seperti halnya komputer yang tiba-tiba tidak mau menjalankan semua yang kita perintahkan. Memang, seperti halnya sebuah mesin (yang sangat cukup awet), otak kita pun terkadang memerlukan sedikit jeda untuk bekerja. Walau otak tetap bekerja seperti biasa selama kita tidur. Akan tetapi biasanya waktu tidur, yaitu masa ketika tugas otak kiri yang mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan koordinasi tubuh berkurang, itulah sebenarnya yang seringkali dipakai oleh sebagian besar sel otak untuk berhenti sejenak. Masa berhenti itu tentunya tidak lama, untuk orang yang berada dalam kondisi prima, paling lama tercatat hanya sekitar 1 detik saja.</p>
	<p>Jika memang otak lebih sering &#8216;istirahat&#8217; ketika tidur, ini berarti gejala &#8216;hang&#8217; itu cenderung lebih sering terjadi pada mereka yang kurang tidur, atau bahkan jarang menguap. Seperti diketahui, menguap (yawning) adalah kegiatan spontan yang dilakukan tubuh untuk mengisi oksigen di dalam otak, lebih lebar kita membuka mulut otomatis lebih lancar juga peredaran oksigen ke otak kita, sebaliknya kekurangan oksigen ini pula yang mengakibatkan otak terkadang bisa &#8216;pingsan&#8217;. Anehnya disini, banyak budaya masih menganggap menguap adalah hal yang tidak sopan, menguap juga sering diidentikan dengan kemalasan meski tidak menguap ternyata malah dapat menyebabkan disfungsi otak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alterpedia.blogsome.com/2006/04/06/ketika-otak-beristirahat/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Highlander</title>
		<link>http://alterpedia.blogsome.com/2006/04/01/highlander/</link>
		<comments>http://alterpedia.blogsome.com/2006/04/01/highlander/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Apr 2006 06:08:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Mitos dan Cerita</category>
		<guid>http://alterpedia.blogsome.com/2006/04/01/highlander/</guid>
		<description><![CDATA[	Legenda Highlander, sebuah kelompok yang tak dapat mati kecuali dipenggal kepalanya oleh sesama mereka. Ternyata memang benar-benar nyata! Di Hamburg, Jerman, ditemukannya selembar foto seorang prajurit Skotlandia yang diambil pada periode Perang Dunia I di kamar milik korban pembunuhan bernama Colin McHenry (diperkirakan berusia 30 tahun) menunjukkan keidentikan ciri fisik antara keduanya. Masih belum percaya? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Legenda Highlander, sebuah kelompok yang tak dapat mati kecuali dipenggal kepalanya oleh sesama mereka. Ternyata memang benar-benar nyata! Di Hamburg, Jerman, ditemukannya selembar foto seorang prajurit Skotlandia yang diambil pada periode Perang Dunia I di kamar milik korban pembunuhan bernama Colin McHenry (diperkirakan berusia 30 tahun) menunjukkan keidentikan ciri fisik antara keduanya. Masih belum percaya? Sebuah dokumen bercap jempol korban juga berhasil ditemukan di laci mejanya, anehnya dokumen itupun menandakan masa berlaku untuk tahun 1944. Polisi dan pihak kependudukan yang menangani hal tersebut masih belum mengeluarkan statemen resmi. Colin McHenry pemuda yang mulai tinggal di daerah tersebut sejak 3 tahun terakhir selama ini hidup seorang diri dan bekerja sebagai seorang petugas perpustakaan besar kota Hamburg.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alterpedia.blogsome.com/2006/04/01/highlander/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>siapa penemu dansa Pogo-Pogo?</title>
		<link>http://alterpedia.blogsome.com/2006/04/01/siapa-penemu-dansa-pogo-pogo/</link>
		<comments>http://alterpedia.blogsome.com/2006/04/01/siapa-penemu-dansa-pogo-pogo/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Apr 2006 05:55:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Seni populer</category>
		<guid>http://alterpedia.blogsome.com/2006/04/01/siapa-penemu-dansa-pogo-pogo/</guid>
		<description><![CDATA[	Siapa penemu dansa pogo? Ada yang sementara ini bilang Sid Vicious lah penemunya(?). Namun sebenarnya gerakan dansa sekaligus kata pogo sendiri berasal dari tarian tradisional masyarakat Chockewa, sebuah suku di pedalaman Amerika Tengah. Tarian yang seperti orang berjalan di tempat dengan mengangkat kaki dan tangannya tinggi-tinggi ini pada dasarnya merupakan sebuah tari ritual. Sementara kata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Siapa penemu dansa pogo? Ada yang sementara ini bilang Sid Vicious lah penemunya(?). Namun sebenarnya gerakan dansa sekaligus kata pogo sendiri berasal dari tarian tradisional masyarakat Chockewa, sebuah suku di pedalaman Amerika Tengah. Tarian yang seperti orang berjalan di tempat dengan mengangkat kaki dan tangannya tinggi-tinggi ini pada dasarnya merupakan sebuah tari ritual. Sementara kata pogo sendiri dalam bahasa Chockewa berarti kepatuhan, sebuah kata yang tentu berlawanan dengan falsafah hidup komunitas punk. Uniknya lagi, jika dansa pogo dipakai oleh komunitas punk atau ska untuk mengiringi atau menyatakan rasa sukanya akan musik yang dimainkan atau lagu yang dinyanyikan, dansa pogo asli yang berasal dari pedalaman di dekat wilayah Panama ini juga dipakai untuk menyambut titah sang kepala sukunya sekaligus menyatakan dukungan dan loyalitas mereka kepada sang pemimpin.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alterpedia.blogsome.com/2006/04/01/siapa-penemu-dansa-pogo-pogo/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
